Telepon 6 menit
Bondowoso, 6 Agustus 2022
"Drttt....drttt..." handphone ku bergetar lama, sebuah panggilan masuk.
Siapa sih telpon pagi-pagi gini di hari sabtu?"gerutuku. Ini masih jam 5 pagi.
Sebuah panggilan masuk dari nomer tak di kenal. Hampir saja aku enggan mengangkat, akhirnya ku angkat juga, barangkali mantanku menelpon. hehe
"Halo?" kataku
"Assalamualaikum" terdengar suara sapaan dari seorang laki-laki, sepertinya setengah baya. Jelas dia bukan mantanku.
Alisku mengernyit ke atas, agak kaget. Siapa ya? tanyaku dalam hati. Tapi yang keluar dari mulutku adalah "Walaikumsalam" menjawab salam yang diucapkan laki-laki setengah baya itu.
"Begini Bu, kata Pak Ahmad jenenengan tertarik untuk jadi guru. Di sekolah kami sedang membutuhkan guru kelas 2. Apa jenenggan masih tertarik nggeh?" tanya beliau dengan sopan.
"emm Nggeeh... masih tertarik" kataku agak terbata-bata. Spontan ku jawab demikian padahal aku tidak ingin, tapi demi mengiyakan permintaan ibuku yang memang dari dulu ingin aku jadi guru sehingga tanpa pikir panjang aku jawab saja begitu.
"Alhamdulillah. Kalau begitu apa bisa menyerahkan lamarannya hari ini nggeh? "
"Hari ini bapak?" tanyaku agak kaget. "Iya hari ini, saya tunggu sebelum jam 9 di sekolah nggeh. Karena sekalian jenenggan di interview dengan ketua yayasan" kata beliau.
"Oh nggeh-nggeh" kataku manggut-manggut.
"Baik bu, terima kasih. Assalamualaikum" kata beliau yang kemudian menutup sambungan telepon.
"Walaikumsalam" jawabku.
Ini masih jam 5.06 pagi, keadaanku sedang tidak enak badan. Memang semalam aku demam, dan aku sudah memutuskan untuk rebahan saja sabtu ini. Tapi urung sampai telpon dari Pak Wasit itu datang. Aku sampaikan perihal ini pada Ibu. Ibu sangat senang mendengar anak perempuan satu-satunya ini mendapat tawaran menjadi guru, sebuah profesi yang melelahkan dengan gaji yang merisaukan, fyuhhh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar